Pandemi dan Problem Kebosanan

Kebosanan

Pandemi COVID-19 saat ini menimbulkan banyak sekali dampak, salah satunya mengharuskan kita untuk menghentikan hampir semua kegiatan di luar rumah. Stay at home. Ini merupakan cara kita untuk melandaikan kurva penyebaran virus.

Menghabiskan waktu seharian di rumah tentu saja menimbulkan kebosanan, dan ini normal sebenarnya. Perihal kebosanan itulah yang tertangkap dalam sebuah tweet berikut,

Di dalam tweet tersebut juga tergurat solusi yang bagus.

Pertama, penerimaan.

Kebosanan harus diterima sebagai sebuah kebosanan. Penerimaan. Acceptance. Penerimaan ini saya kira sebuah skill yang sangat berguna juga dalam mengarungi kehidupan. Bahkan dalam filsafat Stoikisme ada istilah amor fatimencintai nasib. Ini perihal menerima keadaan yang terjadi sebagaimana memang harus terjadi, walau tidak selalu sesuai dengan ekspektasi kita.

Kedua, menggunakan waktu.

Ketimbang berfokus pada kebosanan itu sendiri, waktu luang yang ada dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik, yang bisa menghasilkan sesuatu. Membaca buku, misalnya. Waktu kosong yang banyak tersedia justru sebenarnya bisa digunakan untuk ‘menggali’ hal-hal baru yang belum pernah dicoba sebelumnya.

Saya jadi teringat dengan quote dari Blaise Pascal, “All of humanity’s problems stem from man’s inability to sit quietly in a room alone.” Pandemi yang mengharuskan kita untuk berdiam di rumah ini justru memberikan kesempatan untuk kita untuk berpikir dalam, bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan yang dalam dan penting. Ketika sebelum pandemi kita banyak menghabiskan waktu dengan mengkonsumsi hal-hal yang non-esensial, hal-hal receh, maka pandemi ini menjadi momen bagi kita untuk berefleksi, to wrestle with deep and fundamental questions.

Tak kecil kemungkinan bahwa masa pandemi ini adalah masa pikiran-pikiran terbaikmu bisa muncul. Sejarah umat manusia telah membuktikan, lagi dan lagi, bahwa ide-ide terbaik justru lahir di tengah krisis.

Dan satu hal lagi, mengeluhkan kebosanan bukanlah pilihan terbaik. Semua orang pasti pernah bosan dalam hidupnya, tapi tak semua orang mengeluhkan kebosanan itu. Mereka mengelolanya, dengan cara mereka sendiri. So, find your way!

Salam,

Paulinus Pandiangan

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari dua anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.