Pandemi dan Filosofi Teras

Cover Filosofi Teras “Dark Mode” ๐Ÿ™‚

Saya baru saja membeli buku Filosofi Teras edisi terbatas (cetakan ke 25) karya Henry Manampiring. Tema dari buku ini sudah pernah saya tuliskan sebelumnya di sebuah postingan lain.

Edisi terbatas dengan cover hitam ini cukup menarik karena dilengkapi dengan Catatan Pandemi, satu bagian ekstra yang tidak ada pada edisi sebelumnya. Karena kita masih berada dalam situasi pandemi maka, tentu saja, bagian ini menjadi penting.

Catatan Pandemi

Baiklah, lalu apa point utama dari Catatan Pandemi di buku ini? Saya mencoba menyarikannya sebagai berikut:

Pertama, kita perlu bersikap sewajarnya terhadap pandemi ini. Pandemi bukanlah hal baru dalam sejarah umat manusia. Pandemi sudah pernah terjadi sebelumnya dan pasti akan terjadi lagi di masa depan. Kita perlu bersikap indifferent terhadap pandemi ini; bahwa pandemi adalah suatu hal alamiah, lahir dari kombinasi perilaku manusia dan sifat virus. Kita mengetahui bahwa virus selalu bermutasi dan sangat mungkin suatu saat akan menyerang manusia, dan virus bisa menyebar dengan cepat, bahkan antar spesies.

Kedua, dalam filosofi Stoikisme, atau Stoa, atau filosofi teras (ingat, stoic atau stoa artinya adalah teras bangunan, tempat para filsuf dulunya berkumpul dan berdiskusi) dikenal dikotomi kendali. Dikotomi kendali ini memisahkan antara apa yang di bawah kendali kita dan apa yang di luar kendali kita. Hal ini sangat berguna dalam setiap situasi, termasuk pandemi virus corona saat ini. Pandemi ini menunjukkan dengan jelas keterbatasan umat manusia dalam mengendalikan hal-hal di luar dirinya. Kita disadarkan bahwa keadaan sehat sama sekali di luar kendali manusia. Kendati sudah mengatur pola makan dan rajin berolahraga, seseorang tetap bisa terinfeksi virus corona. Lalu apa yang di bawah kendali kita dalam situasi pandemi ini? Tak lain adalah pilihan sikap kita, dan reaksi yang baik adalah dengan menerapkan apa yang sekarang kita kenal dengan protokol kesehatan: menjaga jarak aman dengan orang lain (sekitar 6 kaki), mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau setidaknya hand sanitizer, menggunakan masker, menghindari kerumunan. Ini adalah pilihan tindakan yang berada dalam kendali kita, yang juga telah diteliti para pakar kesehatan. Praktisi filsafat Stoa akan memfokuskan dirinya untuk melakukan segala hal yang bisa dilakukan untuk mencegah infeksi virus, dan ini adalah sikap yang tepat pun bijaksana.

Ketiga, prinsip amor fati. Ini adalah sikap menerima keadaan saat ini sebagai sesuatu yang memang terjadi sebagaimana seharusnya. Amor fati bukanlah pasrah dan lantas tidak berbuat apa-apa, tetapi justru menyadari bahwa apa yang terjadi sudah digariskan untuk terjadi, dan tetap bisa dijalani dengan baik, apabila kita menggunakan perspektif yang benar. Banyak orang yang kehilangan orang terkasih, kehilangan pekerjaan, mengalami kerugian bisnis yang besar di tengah pandemi ini. Tetapi di sisi lain banyak orang yang akhirnya semakin dekat dengan keluarganya di tengah pandemi. Tak sedikit pula yang tersentuh dengan kebaikan orang-orang yang secara sukarela membantu saudara-saudarinya di saat pandemi ini. Ada juga yang menemukan peluang bisnis baru, ada yang menemukan dan menggeluti hobi baru seperti berkebun atau tergerak membuat video di YouTube. Singkatnya, keadaan pandemi harus diterima sebagai sebuah keadaan yang tidak melulu buruk. Tetap ada hal-hal baik yang bertumbuh subur justru di tengah pandemi.

Menerapkan Sikap Stoik di Masa Pandemi

Keempat, pandemi melatih kita untuk berpikir untuk kepentingan semua. Sikap individualistik yang hanya mementingkan diri sendiri menjadi pilihan yang tidak bijaksana. Dalam upaya memerangi pandemi, cara berpikir inilah yang sebenarnya dilatih ketika kita dianjurkan melakukan protokol kesehatan. Ketika kita menggunakan masker, misalnya, kita tidak hanya sedang melindungi diri kita sendiri, tapi juga keluarga dan orang-orang sekitar, karena akan mereduksi kemungkinan mereka terpapar virus dari kita. Ketika semua orang bekerjasama melakukan hal yang benar (dalam hal ini protokol kesehatan), maka akan semakin cepat pula masyarakat akan pulih dari krisis Covid-19 ini. Jika keadaan membaik, ekonomi masyarakat juga pasti akan segera membaik, dan keadaan akan bergeliat normal kembali. Ini hanya akan terjadi apabila setiap orang berpikir untuk kepentingan bersama, bukan kepentingan diri sendiri.

Kelima, rasa syukur. Pandemi ini mengajarkan kita kembali untuk sungguh bersyukur. Apabila kita bisa tetap sehat melalui hari demi hari di masa pandemi, saat banyak orang terjangkit, ini adalah anugerah besar yang sangat pantas disyukuri. Ada banyak sekali hal yang justru dengan adanya pandemi menjadi semakin terlihat nilainya, misalnya makanan sehari-hari yang tercukupi, atau pasokan air yang mengalir dengan lancar. Sebelum pandemi hal-hal itu barangkali terlihat biasa saja di mata kita, tetapi di masa pandemi ini kita semakin menyadarinya sebagai rahmat. Bisa menikmati makanan sederhana dengan indera perasa yang berfungsi normal adalah anugerah besar!


Demikian beberapa hal penting yang berhasil saya sarikan dari bab Catatan Pandemi di buku ini. Tulisan senada sebenarnya pernah saya tuangkan di postingan ini, tetapi Catatan Pandemi di buku ini semakin memperkaya apa yang saya tuangkan.

Semoga kelima hal di atas memberikan manfaat buatmu. Pandemi masih berlangsung walaupun memang sudah semakin melandai. Apa pun situasi kita, mari tetap bersyukur selagi masih diberi kesempatan.

Selamat menjalani hidup dengan bijaksana! ๐Ÿค—

Salam,

Paulinus Pandiangan

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari dua anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.