Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Niksen

Di sebuah postingan pada 31 Mei 2021 saya pernah menyinggung tentang sebuah seni tidak melakukan apa-apa à la orang Italia, l’arte di non fare niente. Niksen adalah seni yang sama dalam versi Belanda.

Kita tentu familiar dengan istilah CFD. CFD (Car Free Day)hari bebas kendaraan bermotordi kota-kota besar adalah analogi yang baik untuk niksen. CFD adalah ‘jeda’ kota dari lalu lintas kendaraan bermotor; dan niksen sendiri adalah jeda dari kesibukan sehari-hari.

Niksen awalnya berkonotasi negatif, karena dianggap menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna. Niksen sangat erat dengan kesan kemalasan dan tidak produktif.

Podcast Monolog Saya Tentang Niksen

Seiring waktu, ketika kesibukan meningkat dan teknologi komunikasi semakin baiksehingga batasan waktu bekerja semakin kabur (dimana orang akhirnya bisa bekerja walaupun sedang di rumah)niksen pada akhirnya dianggap sebagai penawar dari kelelahan mental dan fisik akibat terlalu banyak bekerja (overwork). Perkembangan teknologi komunikasi melahirkan budaya always-on, orang bisa saling terhubung dan berkomunikasi 24/7. Niksen adalah cara untuk ‘menjaga kewarasan’ di tengah budaya tersebut; dengan tetap memprioritaskan diri di pusaran berbagai tuntutan atas nama produktivitas. Niksen secara lebih serius adalah upaya untuk menjaga kesehatan mental.

Ilustrasi Niksen

Ternyata mengambil cukup jeda bisa memulihkan level energi, membuat orang lebih sehat (justru karena tidak harus selalu produktif), membuat otak lebih segar, membuat orang bekerja lebih efektif, bisa membuat perencanaan jangka panjang, dan tidur lebih pulas. Orang yang kelelahan secara mental dan fisik akibat terlalu sibuk justru akan mengalami masalah terkait fisik, pun kelelahan otak, menurunnya kemampuan memproses informasi, dan lebih parahnya lagi stress. Perlu ada keseimbangan antara bekerja produktif dan waktu untuk diri sendiri (personal time vs professional time). Orang hanya bisa sehat, bahagia, dan kreatif apabila dirinya memiliki waktu untuk melambat, beristirahat, dan merawat diri.

Video berdurasi 2 menit 38 detik berikut menjelaskan niksen dengan singkat dan jelas.

Lalu bagaimana cara melakukan niksen?

Sesederhana berjalan santai di alam terbuka, duduk menikmati sinar matahari di depan rumah, duduk santai di kursi kesayangan sambil minum teh / kopi, atau mendengarkan musik. Intinya adalah mengambil jeda tanpa tujuan berorientasi produktif. Rileks dalam arti yang sebenar-benarnya.

Niksen

Ketika membaca buku berjudul Niksen, The Dutch Art of Doing Nothing yang ditulis oleh Annette Lavrijsen, saya teringat sebuah kutipan dari Blaise Pascal yang cukup populer,

All men’s miseries derive from not being able to sit in a quiet room alone.

Blaise Pascal

Berdiam tak melakukan apa-apa (niksen) ini sekilas terkesan mudah dilakukan, akan tetapi ternyata tidak demikian. Kita bisa belajar dari kutipan di atas bahwa manusia ternyata sulit berdiam diri, karena itu kita cenderung melakukan berbagai aktivitas untuk menghindari kebosanan yang timbul dari berdiam diri. Kita, dengan sengaja, ‘membiarkan’ diri kita terdistraksi. Ini bisa menjelaskan mengapa kita begitu betah scrolling layar HP berjam-jam, karena kegiatan itu setidaknya bisa mengalihkan kita dari kemungkinan untuk bosan yang lahir dari proses berdiam diri.

Karena itulah niksen ini disebut sebagai sebuah seni untuk mengambil jeda, karena membutuhkan pengenalan diri, dan juga merupakan suatu keterampilan yang perlu dilatih. Niksen adalah seni untuk memprioritaskan diri (dalam arti yang positif). Kalau kita mengingat instruksi kondisi darurat dalam penerbangan, kita harus memasang masker oksigen terlebih dulu sebelum menolong orang lain. Konstruksi berpikir yang sama berlaku untuk niksen: kita harus merawat diri kita sendiri dulu (dengan cukup beristirahat), baru setelah itu kita bisa berguna bagi yang lain. Orang yang paling berharga dalam hidup kita adalah diri kita sendiri. Ini barangkali terdengar selfish, tapi ini benar adanya.

Ternyata mengambil cukup jeda bisa memulihkan level energi, membuat orang lebih sehat (justru karena tidak harus selalu produktif), membuat otak lebih segar, membuat orang bekerja lebih efektif, bisa membuat perencanaan jangka panjang, dan tidur lebih pulas.

Durasi niksen sendiri sangat variatif. Jeda 10 sampai 15 menit untuk beberapa aktivitas sudah cukup untuk ‘mengisi ulang’ energi kita sehingga lebih siap untuk aktivitas berikutnya. Ada yang membutuhkan 30 menit atau bahkan lebih dari itu. Ide pokok dari niksen ini adalah memberi waktu bagi diri untuk jeda sejenak. Kita butuh jeda. Kalau kita mengingat kembali sebuah kalimat sebelumnya, orang hanya bisa sehat, bahagia, dan kreatif apabila dirinya memiliki waktu untuk melambat, beristirahat, dan merawat diri.

And that is what niksen about. 🙂


Untuk referensi tambahan, berikut 3 buku tentang niksen yang bisa dipertimbangkan untuk dibaca:

  1. Niksen: Embracing the Dutch Art of Doing Nothing yang ditulis oleh Olga Mecking.
  2. Niksen: The Dutch Art of Doing Nothing yang ditulis oleh Annette Lavrijsen.
  3. The Lost Art of Doing Nothing: How the Dutch Unwind with Niksen oleh Maartje Willems.

Semoga berguna dan salam,

Paulinus Pandiangan

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari tiga anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.

Click to listen highlighted text!