Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Natal, Memento Mori, Peninggalan

Natal tahun 2023 ini adalah Natal pertama setelah saya kehilangan ayah pada 19 September lalu. Semuanya terasa asing dan berbeda. Ada rasa kosong yang rasanya tidak bisa tergantikan dengan apa pun. Saya rasanya menjadi orang yang berbeda, seperti terbangun di alam yang sama sekali baru dan tidak lebih membahagiakan dari sebelumnya.

Di momen Natal ini, saya mencoba merefleksikan apa kiranya pesan yang bisa saya petik dari pengalaman ini. Entah kenapa, dalam beberapa hari terakhir, saya menjadi begitu tertarik untuk menghubungkan Natal dengan merenungi kematian, atau dikenal dengan frase memento mori, dan juga pentingnya peninggalan (legacy). Ini tentu terdengar paradoks, tetapi beginilah pemikiran saya:

Setelah ayah saya meninggal, saya mendengar banyak sekali cerita yang menggambarkan betapa ia seorang yang tulus semasa hidupnya. Dikenal tidak banyak bicara dan pemalu, dia seorang pekerja keras yang selalu berusaha untuk tidak menyusahkan orang lain, terutama keluarganya sendiri. Dia akan melakukan segala pekerjaannya dengan sepenuh hati, rapi, dan tuntas. Ketulusan dan kesederhanaan tampaknya menjadi kualitas pribadi yang sangat menonjol dari figurnya. Ini menjadi peninggalan (legacy) yang menurut saya tidak akan lekang oleh waktu dan tidak tergantikan dengan seberapa banyaknya pun uang.

Cerita-cerita baik dan karakter bapak saya ini menjadi peninggalan yang unik darinya. Cerita-cerita dan karakter itulah membuat dirinya sebagaimana dirinya. Those stories and his character made him him.

Maka di Natal pertama tanpa ayah ini, saya merasa bahwa nilai-nilai yang ditinggalkan ayah saya menjadi pengingat arti hidupnya, dan bahwa ketika ia meninggal dunia pada 19 September lalu, dia ‘membukakan pintu’ bagi lahirnya cerita-cerita kebaikan tentang dirinya yang tidak pernah benar-benar saya pahami sepenuhnya sebelumnya. Kini semuanya terbuka terang benderang, dan saya semakin terkesan dengan kepribadiannya. Apa yang ia tinggalkan menjadi pengingat akan kehidupannya.

Immanuel Kant pernah berkata,

"Our legacy is not just what we leave behind, but the ripple effect of our existence, shaping the destinies of those who come after us."

Di momen Natal ini, barangkali baik kalau aku menyempatkan diri merefleksikan pertanyaan ini: Jejak apa yang ingin engkau tinggalkan?

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari tiga anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.

Click to listen highlighted text!