Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Membaca dan Diubah

Ketika saya menyuarakan tentang eksplorasi atau pencarian buku / penulis favorit di tulisan sebelumnya, di saat itu saya hanya menekankan aspek koneksi antara penulis atau isi tulisan dengan pembaca, of how you relate to the story and/or the author.

Premisnya adalah bahwa banyak membaca (well-read) bukan berarti membaca banyak buku, tetapi membaca teks / tulisan tertentu penuh perhatian dan berulang hingga bisa menceritakan kembali ide utama dalam teks / tulisan tersebut.

Pagi ini, e-mail periodik dari The Daily Stoic di inbox saya berbicara tentang aspek perubahan yang bisa ditimbulkan sebuah buku. Sebuah buku yang baik dan tepat memiliki daya untuk mengubah pembacanya.

Begini kira-kira terjemahan isinya:

Cobalah ingat kembali sebuah buku yang pernah Anda baca yang mengubah hidup Anda. Kapan Anda terakhir membacanya? Sudah berapa lama ditulis?


Sekarang pikirkan semua hal yang telah berubah sejak Anda membaca buku itu, baik perubahan di dalam dunia maupun perubahan di dalam dirimu; mungkin bahkan dalam pemahaman kita tentang sains atau sejarah atau biografi orang yang menulisnya.


Itu sebabnya Anda perlu mengambil buku itu—bahkan buku-buku yang telah mempengaruhi Anda—dan membacanya lagi.  “Buku tetap sama,” kata penulis Italo Calvino, “tetapi kita pasti telah berubah, dan oleh karena itu pertemuan selanjutnya ini akan benar-benar baru.”


Atau seperti yang dikatakan penyair favorit Marcus Aurelius, Heraclitus, “Tidak ada orang yang melangkah di sungai yang sama dua kali, karena itu bukan sungai yang sama dan dia bukan lagi orang yang sama.”


Saat kita berubah dan konteks kita berubah, apa yang kita temukan dan dapatkan dari sebuah buku juga berubah. Inilah sebabnya mengapa Marcus Aurelius membaca tulisan Epictetus ketika dia duduk di takhta dan ketika menjadi kaisar. Buku yang dia baca pada usia 25 tahun selalu bersamanya, dan setiap kali dia mengambilnya, itu akan menjadi pengalaman baru yang berbeda.


Inilah sebabnya mengapa Stockdale membaca Epictetus ketika dia sedang berlatih untuk menjadi pilot pesawat tempur dan mengapa dia kembali setelah dibebaskan sebagai tawanan perang, bahkan menulis bukunya sendiri tentang itu, Courage under Fire.


Inilah juga sebabnya mengapa Jenderal Mattis membawa buku Marcus Aurelius bersamanya di setiap kampanye.


Dan inilah mengapa kita juga harus kembali lagi dan lagi ke buku dan penulis favorit kita.  Anda akan mendapat manfaat baru dari setiap pertemuan.

Kata kuncinya: pertemuan (encounter). Membaca ulang sebuah buku yang bagus dan mengena dengan jiwa kita akan selalu menjadi pertemuan yang baru, yang membawa kita masuk ke dalam level pemahaman yang baru.

Saya selalu menganggap bahwa pemahaman kita akan sesuatu terdiri dari lapisan-lapisan (layer). Ketika hari ini saya membaca buku, barangkali isinya akan membantu saya mengungkap satu lapisan pemahaman. Ketika saya membaca buku yang sama di lain waktu, seiring waktu dan seiring perjalanan dan pengalaman hidup, barangkali lapisan-lapisan pemahaman baru akan terkuak, memperkaya dan memperkuat pemahaman saya yang terdahulu.

Bagaimana denganmu, teman? Apakah engkau memiliki pandangan yang lain tentang ini?

😉

Salam,

Paulinus Pandiangan

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari tiga anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.

%d bloggers like this:
Click to listen highlighted text!