Meditasi ala Stoik

Kalau gambaran meditasi yang jamak kita lihat adalah orang duduk bersila dengan mata tertutup, tangan terletak di lutut, diam berusaha mengosongkan pikiran, bukan begitu ternyata meditasi dalam stoikisme.

Justru kebalikannya. Meditasi dalam stoikisme adalah menyelam ke dalam pikiran dan mencoba memahami pikiran kita dengan lebih baik dalam diam.

Meditasi dalam stoikisme adalah berefleksi, membuat rencana, dan mempertimbangkan berbagai hal dengan hati-hati. Intinya refleksi. Refleksi sendiri berasal dari bahasa Latin, Re (kembali) dan Flectere (membelok). Jadi ketika berefleksi kita ‘membelok kembali‘.

Dalam hal apa?

Melihat kembali pikiran-pikiran (thoughts) kita. Kita ‘mengunjungi‘ kembali apa yang pernah kita pikirkan tentang sesuatu, lalu mencoba memikirkan dan mempertimbangkannya kembali secara berbeda, atau mencoba mengkajinya dari sudut pandang yang berbeda.

Apa yang dimeditasikan para stoik?

Bahan meditasi para filsuf Stoa klasik adalah dalam hal antisipasi dan kendali.

Salah satu topik yang umum dimeditasikan adalah kematian. Dalam hal ini praktik memento mori dipakai untuk merefleksikan kematian untuk memperbaiki kualitas kehidupan saat ini; mencoba melihat kesesuaian antara tujuan hidup kita dengan apa yang aktual kita lakukan.

Subjek lain yang dimeditasikan adalah visualisasi negatif, dengan berusaha menggambarkan hidup tanpa orang-orang atau hal-hal yang dianugerahkan kepada kita saat ini. Praktik ini akan mengajarkan kita untuk bersyukur, membantu kita mendefinisikan apa yang benar-benar penting dalam hidup, atau bahkan membantumu ‘melihat‘ aspek-aspek hidupmu yang masih perlu diperbaiki.

Meditasi bagi para stoik juga berarti memahami perasaan-perasaan yang muncul, perilaku, kebiasaan-kebiasaan kita. Kita selanjutnya dapat mengevaluasi mana yang baik (yang harus dipertahankan dan bahkan dikembangkan) dan mana yang tidak begitu baik (yang perlu diperbaiki atau bahkan dihilangkan).

Meditasi adalah perihal meningkatkan kualitas pribadimu.

Bagaimana cara meditasinya?

Seorang stoik akan berusaha melihat ke dalam dirinya dan memahami bahwa dirinya adalah produk dari reaksi-reaksinya terhadap berbagai hal. Seorang yang pemalas, misalnya, bisa menyerah pada sifat malasnya (dan tidak bisa berbuat apa-apa karena perasaan malas tadi justru mengendalikan dirinya), atau menolak perasaan malas tersebut dan mencoba melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.

Akan sangat baik apabila ‘buah-buah‘ meditasi ini dituangkan dalam bentuk tulisan. Marcus Aurelius menjadi contoh yang luar biasa dalam hal ini. Jurnalnya, Meditations, menjadi bacaan yang berguna bagi banyak orang saat ini, sesuatu yang awalnya ditulisnya untuk dirinya sendiri, kini bisa bermanfaat bagi para pembaca jurnalnya.

Menulis merupakan cara yang sangat efektif untuk mendapatkan manfaat dari meditasi, karena dengan melakukannya kita dapat memadukan pikiran-pikiran kita yang tadinya mungkin tampak terpisah-pisah menjadi satu kesatuan yang ternyata saling melengkapi dan menguatkan.

Rekaman-rekaman pemikiran ini selanjutnya dapat dibaca ulang dan tidak jarang akan merefleksikan bagaimana pola berpikir kita berkembang seiring waktu.

Jadi itulah meditasi ala stoik, sesuatu yang bisa jadi telah kamu lakukan selama ini, tapi baru sekarang menyadari bahwa itu pun bentuk meditasi juga.

Why don’t we try to do it tonight just before sleep? 😉

Salam,

Paulinus Pandiangan

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari dua anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.