Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Meditasi 5 Menit

Meditasi dalam Stoikisme—sebagaimana pernah saya tulis di postingan lain—adalah secara sadar dan fokus memikirkan atau memvisualisasikan sesuatu secara mendalam.

Ilustrasi Kontemplasi

Filsuf Seneca terkenal dengan rutin berkontemplasi di malam hari setelah istrinya tidur. Dia “menjelajahi” sepanjang hari yang telah dijalaninya dalam pikirannya dan menuliskan buah-buah refleksi yang diperolehnya.

Marcus Aurelius pun sama. Entah pagi atau malam hari, sebagaimana pernah saya ceritakan di sini, dia selalu mengambil waktu untuk menulis jurnal. Koleksi tulisan-tulisan ini, yang awalnya adalah kumpulan pemikiran untuk dirinya sendiri, menjadi suatu teks terkenal, Meditations, yang banyak dibaca orang saat ini.


Praktik-praktik dasar Stoikisme yang saya tulis di buku saya semuanya berbasis kontemplasi. Ketika melakukan premeditatio malorum, misalnya, kita dituntut untuk sungguh fokus dan mencoba memvisualisasikan pengalaman tidak menyenangkan yang bisa saja terjadi dalam hidup kita.

Karena itu kontemplasi ini perlu selalu dilatih agar kita semakin baik dalam melakukannya. Meditasi 5 menit adalah cara saya untuk melatihnya. Dengan duduk berdiam diri sekurang-kurangnya 5 menit, kita bisa secara sadar “melihat” kilas balik hidup kita pada hari itu. Saya biasanya melakukannya sebelum tidur di malam hari, ditutup dengan berdoa.

Yang saya lakukan adalah mengingat kembali pengalaman-pengalaman hari itu dan bagaimana saya bereaksi terhadapnya. Seringkali timbul rasa bersalah karena merasa bahwa reaksi saya pada hari itu terlalu emosional dan tidak bijaksana. Dalam meditasi itu saya mencoba menyadari kekurangan-kekurangan saya dalam berhubungan dengan orang lain, bisa keluarga atau teman di tempat kerja.

Seringkali dari kontemplasi ini saya akhirnya mendapat pencerahan bagaimana seharusnya bersikap lebih baik ke depannya. Tetapi pencerahan ini tidak selalu instan juga, tetapi saya percaya bahwa saat kita benar-benar mengkontemplasikan sesuatu, Tuhan dan semesta yang memiliki logos sendiri akan menunjukkan kebaikannya. Secara perlahan namun pasti kita akan diperjumpakan pada kesadaran akan sebuah kebenaran, bisa melalui pertemuan dengan seseorang, atau perbincangan ringan dengan seseorang, atau pengalaman tertentu.

Begitulah besarnya manfaat sebuah kontemplasi.

Apa yang bisa kamu petik dari tulisan ini? Well, setidaknya ambillah waktu untuk dirimu sendiri setiap hari. Lima menit saja pun cukup. Di space itulah kamu bisa menjadi pengamat atas dirimu sendiri. Siapa tahu, ada sesuatu yang berharga bisa engkau temukan di sana. Semoga. ☺️💝

Salam,

Paulinus Pandiangan

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari tiga anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.

%d bloggers like this:
Click to listen highlighted text!