Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.   Click to listen highlighted text! Selamat datang di blog Paulinus Pandiangan. Semoga kamu menemukan sesuatu yang berguna.

Jebakan Resolusi Awal Tahun

Saya adalah satu dari sekian banyak orang yang, dulunya, di awal tahun selalu bersemangat mencetuskan resolusi untuk diri. Pernyataan-pernyataan bernada seperti ‘di tahun ini saya akan membaca 12 buku, satu buku tiap bulan’, atau ‘tahun ini saya akan berolahraga secara rutin agar lebih fit’ cukup acap saya ikrarkan pada diri sendiri di setiap awal tahun.

Kalimat-kalimat yang bernada cukup positif dan menyiratkan keinginan untuk menjadikan diri lebih baik lagi.

Tetapi seringkali resolusi semacam itu, dalam pengalaman saya, hanya merupakan bagian dari euforia tahun baru. Kita senang dengan suasana semaraknya tahun baru dan kita merasa perlu untuk mencetuskan agenda-agenda baru dalam hidup; sesuatu yang sebenarnya tidak salah juga.

Kita terjebak oleh euforia tahun baru ini. Kita berpikir bahwa mengubah resolusi akan mengubah diri kita menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Kita lupa bahwa yang harus berubah adalah diri kita sendiri, bahwa perubahan yang sebenarnya hanya berawal dari dalam (internal) diri, bukan dari target-target yang di luar diri (eksternal). And guess what, we would definitely fail. Again.

Itu sebabnya banyak orang yang kelihatan bersemangat di 1 Januari, tapi sudah ‘layu’ di 10 Januari.

Ilustrasi Resolusi Awal Tahun

Masalahnya ada pada persistensi: kemampuan untuk terus bertahan meneruskan tindakan yang telah dicanangkan, kendati banyak kesulitan dan hambatan. Inilah aspek yang seringkali tidak dipikirkan saat saya dan banyak orang lainnya mencetuskan resolusi awal tahun. Kita sering sangat bersemangat di awal, membuat agenda-agenda yang menantang, tanpa menyadari sungguh-sungguh bahwa ada 360+ hari dalam setahun, dan memiliki level konsistensi yang kurang lebih sama selama waktu tersebut sebenarnya sangat sulit.

Terlebih di era media sosial saat ini. Ada banyak sekali distraksi di sekitar kita, yang menyeret kita pada berbagai isu,seringkali tanpa kita sadari. Kita membuka TikTok, ada satu atau 2 video yang menarik perhatian kita. Lalu untuk beberapa saat perhatian kita tersedot ke sana. Lalu tiba-tiba ada notifikasi group WhatsApp, lalu Twitter, lalu YouTube. Mata kita pun tertuju pada judul video yang tampaknya menarik, lalu kita mengaksesnya, dan lalu menghabiskan beberapa menit di sana.

Begitulah akhirnya perhatian kita ‘terayun-ayun’ hanya oleh beberapa distraksi di layar smartphone.

Belum lagi bentuk distraksi yang lain.

Distraksi-distraksi ini akhirnya ‘menjauhkan kita dari lintasan’ untuk mewujudkan resolusi awal tahun tadi.

Dan dari pengalaman saya, setidaknya 2 sampai 3 tahun terakhir, memiliki keteguhan kehendak (willpower) yang konstan untuk ‘melawan’ distraksi-distraksi ini sangat tidak mudah. Dan distraksi ini tidak selalu buruk juga, karena ia bisa saja membuat kita terpikir akan hal baru atau tersadar akan suatu fakta.

Jadi apa point saya?

Pertama, tidak perlu terobsesi dengan resolusi awal tahun. Mungkin kita hanya perlu berusaha untuk lebih terbuka pada apa yang disajikan kehidupan, dan mencoba menikmati segala kebaikan di dalamnya.

Kedua, tentu kita perlu mengisi waktu dengan berkarya, dan bentuk karya terbaik adalah yang benar-benar sesuai dengan diri kita. Saya masih menggunakan platform weblog ini karena memang saya merasa tulisan adalah semacam ‘saluran’ ekspresi diri yang benar-benar saya sukai, walaupun sudah terkesan outdated karena orang-orang sudah banyak beralih ke platform video seperti TikTok dan YouTube.

Ketiga, kita perlu menyiapkan diri untuk menjelajah hal-hal baru. Inilah yang menurut saya lebih baik dilakukan di awal tahun: meyakinkan diri untuk siap menjelajah hal-hal baru, karena hanya dengan demikianlah kita akan semakin mengenali diri dan menemukan ‘saluran’ untuk berkarya yang paling sesuai dengan karakter dan nilai-nilai instrinsik diri.


Mari kita menikmati tahun 2022 ini dengan tetap open-minded sambil tetap memelihara naluri bertualang yang kita miliki sejak masih anak kecil, tapi seiring waktu perlahan terkubur.

Ketimbang (terlalu) bersemangat membuat resolusi awal tahun, bagaimana kalau kita lebih open-minded saja terhadap berbagai hal yang ditawarkan tahun ini?

😉

Salam,

Paulinus Pandiangan

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari tiga anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.

%d bloggers like this:
Click to listen highlighted text!