Hawking dan Arogansi Intelektual

Saya adalah orang yang sempat mengagumi Stephen Hawking, ahli fisika teoretis yang fenomenal itu. Saat itu saya merasa bahwa dia cukup inspiratif: mampu melampaui keterbatasan fisik akibat kelumpuhan saraf motorik yang dideritanya dengan karya-karya intelektualnya yang luar biasa, yang membantu kita untuk setidaknya lebih memahami alam semesta. Salah satu pemikirannya yang cukup populer misalnya teori big bang atau teori ledakan besar, yang mencoba menjelaskan bagaimana alam semesta bermula.

Stephen Hawking

Tetapi semua kekaguman itu menjadi hambar tatkala pada sekitar tahun 2014 dia menegaskan bahwa dia tidak percaya dengan Tuhan. Tuhan tidak ada.

Dengan berkat ketajaman pemikiran untuk menjangkau galaksi dari kursi rodanya, ternyata dia hanya sampai pada kesimpulan yang menurut saya menyedihkan itu. Pathetic. 🙁

Kesimpulan yang pada dasarnya diperoleh dari penalaran yang tidak sempurna. Mengapa tidak sempurna? Karena menurutnya ledakan besar (big bang) adalah sesuatu yang memulai alam semesta dari ketiadaan (nothingness), tetapi siapa atau kuasa apa yang bisa menciptakan ketiadaan itu, dia pun tidak tahu.

Kecakapan intelektual justru membuatnya menjadi sangat terpaku pada metode-metode ilmiah dimana semuanya harus bisa dinyatakan secara pasti, terukur dengan angka-angka, harus dapat dibuktikan dengan argumen-argumen ilmiah. Jika tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, maka “sesuatu” itu tidak ada. Pada kenyataannya tidak semua yang ada di alam semesta ini dapat diukur.

Tuhan (tentu saja) tidak dapat dimodelkan dalam argumen-argumen ilmiah, tidak dapat kita ukur dengan pengetahuan manusiawi kita. Tuhan, menurut Hawking, adalah “sesuatu” yang sebenarnya tidak ada.

Lalu apa pendapat saya?

Saya selalu meyakini bahwa Tuhan jauh melampaui segala pemikiran. Dan justru karena itulah Dia disebut Tuhan.

Jika pemikiran saya mampu mendikte Tuhan itu seperti apa, maka siapakah sebenarnya yang menjadi Tuhan di sini? 😉

Jika saya mampu memahami Tuhan sepenuh-penuhnya dengan akal pikiran saya yang terbatas ini, maka tentu saja posisi Tuhan tidak lebih tinggi dari saya. Tuhan lalu hanya menjadi sebuah objek dalam alam pemikiran, menjadi sesuatu. 

Maka, ketika kita mencoba “mengecilkan” Tuhan dengan mencoba memahami Dia dengan pikiran kita yang terbatas, kita sebenarnya sedang “membuat diri kita menjadi Tuhan”, yang memahami pikiran Tuhan yang sesungguhnya.

Dan di situlah persisnya letak arogansi kita.

Kita adalah ciptaan, yang merasa memahami Sang Pencipta.

Stephen Hawking adalah satu dari sekian banyak orang yang tampaknya menganggap bahwa Tuhan dan ilmu pengetahuan adalah dua hal yang tidak dapat berjalan beriringan (incompatible), sebagaimana kecenderungan umum para ateis.

Di sisi lain, ada banyak orang religius yang justru mendalami ilmu pengetahuan, dan dapat menjalani keduanya secara beriringan, bahkan pengetahuannya menguatkan imannya. Misalnya saja Gregor Mendel, biarawan yang juga penemu ilmu genetika, atau Albertus Magnus yang sangat ahli dalam ilmu mineral dan orang pertama yang menemukan unsur kimia Arsenik, dan deretan biarawan lainnya yang menggeluti ilmu pengetahuan—tanpa harus menyangkal keberadaan Tuhan. Kedalaman pengetahuan justru membawa mereka pada kekaguman pada Sang Pencipta.

Apa yang sangat berbeda dari kedua pihak ini—ilmuwan yang meyakini adanya Tuhan dan yang menyangkal?

Menurut saya jawabannya terletak pada kerendahan hati (humility)—yang tentu sangat bertolak belakang dengan arogansi.

Untuk bisa sungguh-sungguh menerima Dia, dibutuhkan kualitas kerendahan hati: kesadaran yang tak kunjung henti akan hakekat kita sebagai ciptaan Yang Kuasa, menyadari bahwa kebesaran dan keagungan Tuhan melampaui pemikiran kita yang terbatas. Ketajaman berpikir justru harus disyukuri sebagai anugerah dan kesadaran bahwa alam semesta ini diciptakan berdasarkan prinsip kecerdasan (intelligibility) yang jauh lebih tinggi lagi; bahwa orang cerdas hanya bisa diciptakan oleh Pencipta yang jauh lebih cerdas.

Bukan begitu, saudara-saudariku? 😉

Maka marilah tetap rendah hati dan mencintai Tuhan Yang Maha Agung, agar Ia sungguh berkarya dalam hidup kita, dan semoga kita sungguh menjadi refleksi dari kebaikan hatiNya.

Pace e Bene. 🙂


P. S. Pencetus hipotesis pertama big bang adalah Monsignor Georges Henri Joseph Édouard Lemaître, seorang biarawan Belgia yang juga seorang astronom dan profesor Fisika di Universitas Katolik Leuven.

Georges Henri Joseph Édouard Lemaître

Dan berikut video dari Uskup Robert Barron terkait isu ini.

Komentar Uskup Robert Barron Terkait Klaim Hawking dan Ateisme

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari dua anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.