God or … Worldly Offers

Pilihan: Tawaran Dunia atau Tuhan?

Ilustrasi di atas saya temukan dari Twitter Katolik Garis Lucu, @KatolikG. Sekilas, melihat jarak antar jerujinya yang cukup lapang, nampaknya ia bisa keluar dengan mudah dan mengambil roti, tanpa harus menggunakan batang kayu. Dan tentu tak butuh kunci untuk membuka pintunya.

Tapi, point-nya bukan itu.

Tuhan adalah kemerdekaan. Mengikatkan diri pada Tuhan justru akan membebaskan. Membebaskan dari apa? Dari keterikatan kita pada apa yang ditawarkan dunia.

Hal ini sebenarnya tampaknya cukup mudah dipahami, tetapi kita, termasuk saya, hampir selalu melakukan apa yang digambarkan tokoh dalam ilustrasi. Ilustrasi itu menggambarkan kita. Kitalah yang ada dalam gambar itu; yang selalu mengikatkan diri pada tawaran-tawaran dunia—dan yang lalu membuat kita terpenjara. Tak pernah ada yang cukup, karena selalu ada tawaran-tawaran baru yang lebih menarik, lebih menyilaukan mata, lebih mantap lagi kalau bisa dibeli, dicapai, dinikmati, ditunjukkan.

Kita selalu suka terlihat bagus. Hebat. Sukses. Dan sering sekali kita akhirnya mengidolakan semua kebesaran itu.

Sampai akhirnya… Dia yang justru adalah kunci kebahagiaan dan kemerdekaan kita ditinggalkan.

Paus Fransiskus pernah berkata, “Seseorang tidak bisa mengabdi kepada dua tuan. Anda tidak dapat mengabdi kepada Tuhan dan uang secara bersamaan“.

Uang tentu perlu dan berguna, tetapi menghambakan diri padanya—dan segala hal yang ditawarkan dunia ini—yang bisa lenyap dan habis tentu hanya akan membelenggu kita dalam siklus yang berbahaya, jika tidak dinikmati dalam rasa syukur pada Tuhan, Pembebas Sejati.

We can only be free in Him.

Banyak hal baik di dunia yang perlu kita nikmati dalam rasa syukur. Marilah kita cermat untuk tidak jatuh sebagai penghamba kenikmatan dunia.

Sounds good? 😉

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *