Cara Bersyukur

Gratitude turns what we have into enough.

Anonymous

Selain kemampuan untuk menerima penderitaan sebagai bagian dari perjalanan kehidupan, saya pikir kemampuan bersyukur juga merupakan sebuah skill yang perlu terus dilatih, terlebih di tengah situasi pandemi yang melanda saat ini.

Bersyukur bisa diartikan memilih untuk mengapresiasi apa yang sudah ada ketimbang apa yang (dirasa) masih kurang. Tentu akan ditemui kesulitan dalam menerapkan ini, karena pikiran kita biasanya cenderung lebih cepat melihat apa yang kurang. Tetapi kemampuan ini sebenarnya bisa dilatih dengan cara-cara berikut.

Pertama, menulis ungkapan terimakasih.

Gambar diambil dari sini.

Kamu bisa menyurati seseorang yang membantumu dan memberikan dampak yang baik bagimu. Dengan teknologi komunikasi saat ini mengucapkan terimakasih menjadi semakin mudah. Via WhatsApp, misalnya, yang mendukung komunikasi suara dan video. Dengan selalu mengucapkan terimakasih, kebiasaan berterimakasih akan terbentuk dengan sendirinya.

Dan ingat, kamu juga bisa berterimakasih pada dirimu sendiri!

Kedua, berterimakasih secara mental.

Bahkan kalau kamu tidak bisa menyurati seseorang atau menghubunginya langsung untuk berterimakasih, hanya memikirkan seseorang dan bersyukur atas kebaikan dan/atau bantuannya sudah cukup berdampak bagimu!

Ketiga, menulis jurnal rasa syukur.

Gambar diambil dari sini.

Perihal jurnal ini sudah saya tuliskan sebelumnya. Kamu dapat melakukannya secara personal atau bisa bersama-sama dengan orang lain. Seorang suami bisa melakukannya bersama istrinya, atau bersama teman-temannya. Dengan menjurnal kita akan semakin menyadari bahwa ada saja hal-hal baik dalam hidup kita setiap hari yang sangat layak disyukuri.

Kita bisa bertemu dengan orang-orang baik, misalnya. Atau kita bisa berangkat kerja dengan tubuh yang sehat, atau kita bisa bergurau dengan teman-teman di grup WhatsApp. Semuanya layak disyukuri.

Keempat, cek berkat dalam hidupmu.

Ini masih berhubungan dengan jurnal rasa syukur. Kamu dapat memilih waktu khusus dalam seminggu untuk duduk tenang dan merefleksikan kembali hidupmu seminggu lalu, mencoba mengingat-ingat hal baik apa saja yang telah kamu alami. Ketika me-recall kebaikan-kebaikan ini, emosi positif biasanya bisa kembali kita rasakan, seperti rasa hangat di hati, atau bahkan sebuah senyum akan terkembang di wajah!

Kelima, berdoa.

Gambar diambil dari sini.

Semua yang baik berasal dari Tuhan. Apabila kita diperkenankan untuk merasakan hal-hal baik dalam hidup kita setiap hari, akan sangat pantaslah kita berdoa: berterimakasih kepada Sang Pemberi.

Dan bukan saja untuk hal-hal baik dalam hidup, kita pun selayaknya bersyukur untuk hidup itu sendiri!

Keenam, meditasi.

Meditasi bisa dilakukan dengan duduk tenang, sekitar 5 atau 10 menit, dan menikmati sensasi saat ini tanpa sibuk berpikir, hanya diam tenang (sitting still). Mungkin hanya berfokus untuk menikmati hangatnya sinar matahari, atau suara musik instrumental yang kita putarkan, contohnya seperti musik latar yang bisa kamu nyalakan di bagian bawah peramban ini. ↓

Banyak orang yang mengasosiasikan meditasi ini dengan praktik agama tertentu, tapi sebenarnya tidak sama sekali. Anyone can do it.

Banyak orang yang merasakan pikirannya lebih jernih dan bisa dengan tenang menghadapi hari-hari mereka dengan melakukan meditasi ini secara berkala. Perihal mengambil jeda ini juga pernah saya tulis di postingan yang ini.

Baik, demikianlah enam cara untuk bersyukur yang bisa saya bagikan di postingan kali ini.

Bagaimana, mau mencoba? 😉

Semoga tulisan ini memberikan manfaat buat para sobat sekalian. Be grateful. 😊

Best wishes,

Paulinus Pandiangan

Author: Paulinus Pandiangan

Saya seorang Katolik, anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dari dua anak, orang Batak, saat ini bekerja di sebuah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Saya dilahirkan pada 8 Januari 1983. Capricorn.