Perihal Berpuasa

Pada 14 Mei kemarin paus Fransiskus mengajak seluruh umat beragama di dunia untuk berdoa bersama bagi berakhirnya pandemi virus Corona. Tak hanya berdoa, paus juga mengajak semua umat beriman untuk berpuasa dan beramal dalam cara yang dianjurkan ajaran agama masing-masing.

Lebih dari sekadar menahan diri terhadap makanan, puasa memiliki makna yang lebih dalam. Puasa membawa kita menyelam untuk menemukan esensi di dalam jiwa.

Lalu apa sebenarnya yang perlu dilakukan ketika berpuasa—menurut ajaran Gereja Katolik?

Berikut beberapa pernyataan dari paus Fransiskus terkait ajaran Gereja Katolik tentang puasa:

Fasting isn’t just about losing weight.
— Maknanya jelas, bahwa puasa bukan hanya persoalan mengurangi porsi makan. Orang mudah mengasosiasikan puasa dengan hal ini, karena merupakan “visual” dari  puasa yang paling mudah dilihat.

Fasting is going to the essential.
— Puasa pada hakikatnya adalah sebuah gerakan untuk “menyelam” ke dalam jiwa untuk menggali esensi di dalamnya. Memeriksa jiwa dan berbicara jujur dengan diri sendiri, mengundang Tuhan untuk menuntun kita pada kebaikanNya.

Lalu apa bentuk nyata dari gerakan “masuk ke dalam jiwa” yang dimaksud? Berikut pernyataan lanjutan dari paus Fransiskus,

It’s a time to turn off the television and open the Bible.
— Matikan TV dan bacalah Alkitab. Langsung mengena! Ini bukan hanya persoalan mengalihkan fokus dari TV ke kitab suci, tetapi sungguh memilih untuk menyerahkan kembali sesuatu yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma: waktu. Memberikan kembali waktu itu kepadaNya, dan membiarkan Ia yang berbicara menuntun kita dengan kebaikanNya. Menonton TV dapat menghibur dan memberikan informasi yang baik dan berguna, jika dilakukan dengan bijak dan diatur waktunya dengan baik.

It’s a time to disconnect from cellphones and connect to the Gospel.
— Telepon selular, di samping segala sisi baiknya, juga bisa menyeret kita untuk menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna. Kita menjadi terlalu sibuk dengan segala sesuatu yang bisa ditawarkan perangkat ini, sampai akhirnya bisa-bisa tidak ada waktu untuk membaca kitab suci dan meresapinya dengan sungguh-sungguh, membiarkan untaian kata-kata di dalamnya  “berbicara” ke dalam hati kita, mengungkapkan pribadi Yesus, pribadi Allah yang menjadi manusia. Stay away from your phone during a planned time of the day and try to lectio divina.

It’s the time to give up useless words, gossip.
— Puasa juga adalah perihal melatih diri untuk menjaga lidah. Menjaganya dari mengucapkan kata-kata yang tidak berguna, menghina, merendahkan, memaki. Dengan perkembangan teknologi komunikasi saat ini, orang justru semakin mudah melakukan kekerasan verbal. Internet dibanjiri dengan kata-kata berkonotasi negatif. Kata-kata hinaan sedemikian banyak diucapkan dan disebar jari jemari, tak ubahnya seperti mengucap salam selamat pagi. Dengan berpuasa, kita melepaskan diri dari perilaku seperti ini.

Puasa juga harus dilengkapi dengan tindakan amal atau derma. Puasa yang sesungguhnya haruslah bermanfaat bagi orang lain, sebagaimana pernyataan paus Fransiskus,

“Does my fast help others? If it does not, it’s fake, it’s inconsistent, and it takes you on the path of a double life. I pretend to be a “just” Christian, like the Pharisees”.

— Paus Fransiskus

— Puasa adalah sebuah aksi nyata, aksi yang membawa manfaat bagi orang lain. Puasa haruslah diikuti dengan tindakan amal, dan puasa dilakukan bukan hanya agar “terlihat” sebagai seorang Kristen yang baik, karena tindakan “beramal agar terlihat baik“—sebagaimana orang Farisi— juga sangat dikecam Yesus.

Wujud Puasa Rekomendasi Paus Fransiskus

Lalu kapan harus berpuasa?

Tentu tidak terbatas pada masa puasa saja. Puasa sebagai sebuah gerakan memeriksa jiwa tentu dapat dilakukan kapan saja. Pandemi saat ini merupakan saat yang tepat untuk kembali ke dalam jiwa masing-masing dan mencoba memeriksanya dalam ketenangan di bawah bimbingan Tuhan.

*  *  *

Barangkali di tengah pandemi ini Tuhan ingin berbicara laksana seorang sahabat denganmu. Mungkin sebelum ini terjadi engkau terlalu sibuk dengan proyek-proyek ambisiusmu dan hanya ada sedikit waktu untukNya.

Padahal Dia selalu ada untukmu dan Dia siap kapan saja.

Jika masa pandemi ini memanggilmu untuk berpuasa—yang ingat, bukan soal makan minum saja, tapi lebih dari itu—yang terbaik yang bisa kau lakukan adalah katakan Ya! dan mulailah berikan kembali waktu itu padaNya. He will guide you along the way. Definitely.

Spend more time in silence with Him. Listen more, pray more.

Note:

Ini kutulis sebagai pengingat untuk diriku sendiri. Semoga bermanfaat juga bagimu. 🙂

Best wishes,

Print Friendly, PDF & Email