All or Nothing

“This is something that The Lord has taught me: The person who loses his life and forgets oneself and dies to self is happy. This is the truth.”

— Clare Theresa Crockett (1982 — 2016)

Sabtu, 16 April 2016. Gempa 7.8 skala Richter mengguncang Ekuador, sebuah negara di Amerika Selatan. Itu adalah hari yang menutup cerita kehidupan Clare Theresa Crockett, yang tewas tertimpa reruntuhan gedung sekolah tempat ia mengajar saat berusaha menyelamatkan 5 siswa. Jasadnya ditemukan dalam keadaan menggenggam gitar, alat musik yang biasa ia mainkan…


Tulisan ini adalah tentang cinta. Cinta yang murni dan sepenuhnya. Cinta yang paling sempurna, yang hanya datang dari Allah.

Tuhan mencintai setiap orang tanpa syarat. Ia memanggil semua orang untuk mengikuti jalanNya, melalui cara-caraNya yang indah, yang tak akan terselami oleh pikiran kita yang terbatas. Ia berkarya di dunia melalui tangan-tangan anak-anakNya: kita. Kita semua diberikan kesempatan yang sama untuk mewujudkan karya-karya Tuhan di dunia, sesederhana apa pun hal yang bisa kita lakukan.

Kisah hidup suster Clare Crockett dari Irlandia berikut mungkin bisa menjadi refleksi bagi kita perihal memenuhi panggilan hidup dengan cinta yang sepenuhnya, bahkan sampai ajal menjemputnya di usia yang masih sangat muda, 33 tahun.

Pelajaran hidup dari seorang Katolik seperti suster Clare tentu tidak eksklusif untuk orang Katolik saja. Ini adalah pesan universal tentang menemukan cinta dan kebahagiaan sejati.

Siapa Clare Crockett?

Seorang gadis yang sangat cantik, multi talenta, humoris, enerjik, dan selalu ceria. Ia berasal dari Derry, Irlandia Utara. Orang-orang terdekatnya dan siswa-siswa yang pernah diajarnya menggambarkan dia dengan kata-kata ini: joyful, lively, bubbly, full of live, full of love, full of laughter, always upbeat. Kata-kata sifat yang menggambarkan orang yang selalu ceria dan selalu bisa membuat suasana menjadi hidup, penuh suka cita.

Clare Crockett

Karakter itu menjadi sangat positif terutama karena latar belakang lingkungan tempat ia dibesarkan. Saat ia kecil, Irlandia tengah dilanda pertikaian. Ada perseteruan politis antara Katolik dengan Protestan, yang bukan karena alasan religius, tetapi lebih bersifat politis. Katolik Irlandia menginginkan Irlandia yang bersatu dan merdeka, lepas sepenuhnya dari Inggris Raya, sementara Protestan menginginkan sebaliknya. Perseteruan politis yang akhirnya menjadi kekacauan yang memakan korban, yang dikenal sebagai peristiwa Bloody Sunday (selengkapnya bisa dibaca di sini).

Lingkungan yang penuh kebencian seperti ini tidak membuat Clare menjadi seorang yang pemurung. Ia justru sangat ekspresif, suka berbicara perihal apa saja (dia terkenal talkative), humoris, dan selalu membuat banyak orang suka berada dekat bersamanya, karena ia selalu bisa membuat suasana menjadi hidup dan ceria.

Bakatnya dalam seni peran memungkinkan dia sudah bisa menghasilkan uang sendiri di usia sangat muda dengan terlibat dalam iklan dan film, bahkan sudah menjadi presenter di sebuah saluran televisi di usia sangat muda.

Sayangnya, pergaulannya akhirnya membuatnya terpengaruh oleh suasana dunia hiburan yang sangat hedonis. Dia menjadi seorang gadis pecinta pesta, suka minum-minuman keras di klub sampai mabuk, bahkan merokok.

Bayangkan dengan gaya hidup suka minum alkohol dan merokok seperti ini, ia pada suatu hari mengungkapkan keinginannya untuk menjadi seorang biarawati (suster). Tentu tak mudah dipercaya, bukan? 😀

Bahkan oleh keluarganya. Gaya hidupnya yang seperti itu tentu membuat tak ada orang yang percaya pada awalnya. Tapi itulah misteri panggilan (vocation) dari Tuhan, yang mampu menyentuh dan mengubah hati. Tak ada yang tak mungkin bagiNya.

Clare Crockett yang cantik dan multi talenta itu akhirnya memilih hidup sederhana dan mengabdikan diri sepenuhnya pada Tuhan. Dia menjadi suster di kongregasi Home of the Mother (Hogar de la Madre), yang didirikan pertama kali di Spanyol.

Bagaimana kisah awal panggilan hidupnya?

Secara singkat, pada awalnya semuanya tampak seperti sebuah kebetulan belaka. Temannya yang akan berangkat dalam sebuah peziarahan rohani (pilgrimage) ke Spanyol mendadak tidak bisa berangkat karena sakit, dan akhirnya memutuskan mengganti dirinya dengan Clare sebagai peserta. Tetapi pada akhirnya kita memahami bahwa ini bukan sebuah kebetulan. There is no coincidence for God, begitu kata para orang bijak. Ternyata ini adalah cara Tuhan untuk ‘memanggil’ Clare menjadi salah satu pelayanNya, karena dalam kesempatan inilah, Clare yang tadinya sangat cuek soal urusan agama dan ibadah akhirnya ‘disentuh’ oleh Tuhan, hanya melalui momen yang sangat singkat saat perayaan Jumat Agung (Good Friday).

Dalam tradisi Katolik, ada upacara mencium salib Yesus saat Jumat Agung, dan di saat mencium salib inilah, Clare menerima berkat Tuhan yang berbisik sangat jelas di dalam hatinya, yang menyadarkan dia bahwa gaya hidupnya selama ini adalah ‘paku’ yang ‘menyalibkan’ Yesus sendiri di salib, yang jika diteruskan, maka sama artinya dengan menyakiti Yesus terus menerus.

Kendati dengan kesadaran itu, Clare masih kembali pada gaya hidup lama sepulang dari Spanyol. Dia masih pergi ke klub untuk minum dan mabuk-mabukan bersama teman-temannya, sampai akhirnya pada suatu malam, dia mendapat bisikan Tuhan yang sangat kuat di dalam hatinya, “Mengapa engkau masih terus menyakiti Aku?

“Mengapa engkau masih terus menyakiti Aku?”

Bisikan Tuhan kepada Clare Crockett

Momen inilah yang menjadi titik balik dalam hidup Clare Crockett, yang akhirnya membawa dia memenuhi panggilan menjadi pelayan Tuhan melalui biara Home of The Mother.

Cerita utuh panggilan hidupnya bisa dibaca di link berikut ini, atau bisa ditonton dalam film dokumenter tentang kisah hidupnya.

Berikut video testimoni dirinya pada acara World Youth Day (WYD) di Madrid pada 2011 silam, dimana dia menceritakan bagaimana ia pada akhirnya terpanggil menjadi suster pelayan (servant sister) dengan latar belakang gaya hidup yang tampaknya sama sekali tidak mendukung untuk panggilan hidup semacam itu.

Testimoni Suster Clare di WYD 2011

Apa yang paling luar biasa dari seorang Clare Crockett?

Dengan wajah rupawan dan segudang talenta (bisa bernyanyi dan bermain musik, sangat berbakat dalam seni peran), humoris dan mudah bergaul dengan siapa saja, tampaknya tak akan sulit baginya untuk menjadi tenar, sebagaimana yang selalu ia impikan pada awalnya: menjadi terkenal ke seluruh dunia.

Lihat saja bagaimana ia bernyanyi pada rekaman tiga video berikut ini. Pada video pertama dia mengajari anak-anak Ekuador bernyanyi di kelas, pada video kedua dia menyanyikan sebuah lagu berbahasa Spanyol tentang Bunda Maria, dan video ketiga dalam suatu acara di biara. Sangat berbakat! 🙂

Suster Clare Bernyanyi Bersama Siswa di Kelas
Suster Clare Menyanyikan “Virgen del Rocío”

Ketika ia merasa terpanggil untuk menjadi seorang suster, awalnya ia sempat mengalami kebingungan juga. Di satu sisi ia ingin hidup taat, sederhana, dan suci raga seperti para suster, dan di sisi lain ia ingin menjadi aktris terkenal. Maka sempat juga dia mengatakan ingin menjadi “suster yang terkenal“. 😀

Dan memang hal itu terwujud juga pada akhirnya.

Membuat pilihan seperti ini tentu sulit. Meninggalkan kesuksesan duniawi yang jelas sudah ada di depan mata dan memilih menjadi biarawati yang hidup sederhana bukan hal mudah, di mata banyak orang pasti tampak konyol, bahkan di keluarganya sendiri pada awalnya. Teman dekatnya bahkan sempat menganggap bahwa Clare menyianyiakan hidupnya.

Menjadi tenar dan sukses dan punya banyak uang tentu adalah impian banyak orang. Tetapi ia mampu meninggalkan semua itu untuk menyerahkan hidupnya sepenuhnya pada Tuhan. Inilah prinsip yang dipegangnya dengan teguh: penyerahan diri secara total. All or nothing. Ini jelas luar biasa. Di satu titik dalam perjalanan kariernya di dunia hiburan, dia juga akhirnya menyadari bahwa segala ketenaran dan kekayaan tidak membawa kepenuhan jiwa. Ia justru merasakan kekosongan (emptiness) — mungkin seperti pengalaman Raja Salomo yang pernah saya tulis — yang semakin menguatkan panggilan jiwanya untuk mengabdi Tuhan sepenuhnya. Aku telah mencari cinta di tempat yang salah selama ini, begitu katanya.

Tetapi yang paling luar biasa barangkali adalah kerendahan hatinya dan kesetiaannya pada panggilan ini.

Setiap kali ditanya perihal panggilan hidupnya ini, ia selalu berkata bahwa Tuhanlah yang memberinya berkat untuk mampu melakukan semuanya. Butuh kerendahan hati untuk mampu berkata seperti itu. To think less about yourself, that is really a humble act.

Kerendahan hati itulah kiranya yang membuat ia dilimpahi dengan begitu banyak berkat.

Ia juga sangat setia untuk bertahan pada panggilannya. Ketika sudah di biara, managernya di dunia seni peran masih mencoba menghubunginya, meyakinkan Clare bahwa hidupnya adalah di dunia seni peran. Dengan keteguhan jiwa, kesetiaan pada cinta yang telah dipilihnya, ia berhasil melewati pergumulan yang tentu tak mudah itu. Clare Crockett tetap setia pada jalan hidup yang sudah dipilihnya.

Misa Kaul Kekal (Perpetual Vows) Suster Clare

Apa yang membuat dia selalu bersemangat dan bahagia?

Dengan melihat dokumentasi perjalanan hidupnya saya perlahan menyadari bahwa penyerahan dirinya secara total itulah yang membuat suster Clare selalu bahagia.

Sebagai catatan, suster Claire penderita migrain akut. Konon dia sering harus muntah akibat migrain ini, tetapi selalu tampak bersemangat seolah tak ada masalah pada kesehatannya, dan selalu menyakinkan temannya para suster bahwa ia baik-baik saja. Tak ada yang begitu memahami bagaimana ia mempunyai begitu banyak energi dan selalu bersemangat.

Ketika mengajar di sekolah pun, ketika teman-temannya sudah kelelahan ketika jam istirahat tiba, dia masih menyempatkan diri bermain dengan anak-anak, bernyanyi bersama mereka dan selalu punya ide untuk membuat aneka permainan atau bercerita. Sangat kreatif dan berenergi, dan tampaknya sangat mudah baginya untuk disenangi semua orang.

Mengapa harus mati muda?

Pertanyaan di atas tentu hanyalah reaksi emosional saya setelah melihat dokumentasi perjalanan hidupnya. Secara manusiawi saya berharap bahwa orang sebaik suster Clare hidup lebih lama, membuat ceria banyak orang.

Tetapi Tuhan mempunyai rencana yang lebih indah untuknya. Dalam gempa bumi di Ekuador pada April 2016 silam, suster Clare Crockett meninggal tertimpa reruntuhan gedung sekolah tempat ia mengajar di Playa Prieta, Ekuador, bersama 5 siswa calon suster. Dia ditengarai tengah berusaha menuntun kelima siswa tersebut keluar dari gedung sekolah saat gempa terjadi.

Sebagaimana diungkapkan pastor Fred Parke, pastor paroki yang bekerja bersama suster Clare saat bertugas di Amerika, “Kematian suster Clare ibarat benih yang ditabur di tanah. Dengan itu kisah hidupnya bisa menyentuh lebih banyak orang, menjadi berkat bagi lebih banyak orang“.

Benar sekali. Kematian suster Clare pada akhirnya membuat lebih banyak lagi orang yang tersentuh oleh kisah perjalanan hidupnya. Lebih banyak orang yang akhirnya terinspirasi oleh kisah Clare Crockett, yang membaktikan dirinya untuk Tuhan, mampu meninggalkan semuanya untuk melayani Dia, cinta suster Clare yang terbesar dan satu-satunya. Melalui kematian, hidupnya menjadi testimoni yang mengajak lebih banyak orang untuk tetap setia mencintai Tuhan, untuk rendah hati dan taat dan mencoba melayani Tuhan sepenuhnya melalui panggilan hidup kita masing-masing. Dengan pemahaman seperti ini, kematian tak lagi menjadi sebuah kehilangan. Kematian justru menjadi awal sebuah berkat Tuhan yang lebih besar.

Berikut dokumentasi perjalanan hidupnya yang dikemas rekannya para suster di biara Home of The Mother.

Versi singkatnya ada di video berikut:

Dan berikut video versi lengkapnya. Dokumentasi yang dibuat para suster di kongregasi Home of the Mother ini sangat baik. Saya sangat terkesan. 🙂

All or Nothing : Full Movie

Semoga dengan kisah hidup suster Clare ini kita semakin terdorong untuk tetap setia mencintai Tuhan dalam panggilan hidup kita masing-masing, dan memahami bahwa rancanganNya adalah misteri iman dan pasti yang terbaik.

Gloria solo para Dios. Kemuliaan hanya untuk Tuhan.

Print Friendly, PDF & Email

Written by

Paulinus Pandiangan

The only son in the family, a brother for two older sisters, a father for two sons, a husband for a woman, and a Catholic.