Doa Pagi dan Malam

Berikut doa singkat di pagi dan malam hari sebelum tidur yang saya buat kemarin malam. Berawal dari iseng membuat doa singkat. 🙂

Doa Syukur Pagi

Ya Bapa, aku bersyukur atas berkat kehidupan yang Engkau anugerahkan pagi ini. Semua ini kuperoleh secara cuma-cuma dariMu, Bapa Yang Maha Rahim, dan aku menyadari bahwa aku tidak layak menerima anugerah sebesar ini, tetapi cintaMu telah memantaskanku.

Syukur kepadaMu ya Bapa. Bimbinglah hidupku sepanjang hari ini agar berkenan bagiMu. Bunda Maria, doakanlah kami selalu kepada Putramu Yesus Kristus.

Terpujilah nama Tuhan kini dan sepanjang masa. Amin.

Dan berikut doa malam sebelum tidur:

Doa Malam Sebelum Tidur

Ya Bapa, aku bersyukur atas hari ini dan segala yang dapat kualami di dalamnya. Baik atau buruk, itu hanyalah pikiranku semata, tetapi dalam rencanaMu, semuanya laksana goretan kuas yang membentuk lukisan indah.

Yesus, aku percaya padaMu. Semoga aku tetap setia untuk selalu berbuat baik, seperti Engkau selalu melakukan yang baik.

Terimakasih atas hari ini Ya Yesus. Amin.

(Bisa ditambah dengan Doa Bapa Kami atau Salam Maria, lalu diikuti Kemuliaan).

C. S. Lewis on the Search for Meaning

In his 1980 book titled The Weight of Glory, C. S. Lewis writes,

The books or the music in which we thought the beauty was located will betray us if we trust to them; it was not in them, it came through them, and what came through them was longing. These things—the beauty, the memory of our own past—are good images of what we really desire; but if they are mistaken for the thing itself, they turn into dumb idols, breaking the hearts of their worshippers. For they are not the thing itself; they are only the scent of a flower we have not found, the echo of a tune we have not heard, news from a country we have not visited.

C. S. Lewis

Think about that. For me, it speaks about The Creator, The One that His creations should lead us and worship to.

It is about God, The One in which meaning of our lives is found.

Perihal Berdoa

Bagaimana kita sebagai Katolik sebaiknya berdoa?

Sebuah artikel di katolisitas.org telah membahas ini secara detail, dan di sini saya hanya menambahkan sedikit materi berupa video dari seorang frater Kapusin yang membuat channel YouTube bernama Mea Culpa.

Sekedar info, mea culpa sendiri (dibaca /ˌmejəˈkʊlpə/) merupakan versi bahasa Latin untuk menyatakan “Saya orang berdosa“.

Ini tentu saja merupakan pertanyaan yang sangat mendasar dan karena itu menjadi penting, karena jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan pola berdoa kita sehari-hari.

Semoga dari beberapa video berikut kita dapat mengambil 1 atau 2 hal yang baik untuk membantu kita berdoa dengan lebih baik pula.

Dan semoga kita tetap tekun berdoa setiap hari, katakanlah setidaknya menyediakan 1% dari waktu kita setiap hari — atau setara sekitar 15 menit, cukup untuk berdoa Rosario — untuk berkomunikasi dengan Tuhan sungguh dari hati kita.

Pace e Bene. 🙂 🕊

Bagaimana Kita Berdoa? Pesan Santo Agustinus
Belajar Berdoa
Masih Tentang Berdoa

Semoga berguna, and one more thing…

Jesus Christ You Are My Life

Judul di atas merupakan lagu yang bisa dianggap paling populer dalam World Youth Day (WYD) atau Hari Orang Muda Sedunia, suatu buah karya Santo Yohanes Paulus II pada tahun 1984.

Lagunya sendiri diciptakan oleh Marco Frisina, seorang imam sekaligus komposer di Vatikan.

Video “Jesus Christ You Are My Life”

Lirik lagunya tersedia di beberapa alamat web, salah satunya di MusixMatch. Versi MP3nya dapat diunduh di bawah ini:

MP3 Lagu “Jesus Christ You Are My Life”

Lagu ini banyak dipakai sebagai backsound video tentang Santo Yohanes Paulus II semasa hidupnya, salah satunya seperti video berikut:

Semoga lagu ini mengingatkan kita untuk selalu menjadikan Tuhan Yesus Kristus sebagai pusat perjalanan kehidupan kita.

Pace e Bene. 🙂 🕊

Hawking dan Arogansi Intelektual

Saya adalah orang yang sempat mengagumi Stephen Hawking, ahli fisika teoretis yang fenomenal itu. Saat itu saya merasa bahwa dia cukup inspiratif: mampu melampaui keterbatasan fisik akibat kelumpuhan saraf motorik yang dideritanya dengan karya-karya intelektualnya yang luar biasa, yang membantu kita untuk setidaknya lebih memahami alam semesta. Salah satu pemikirannya yang cukup populer misalnya teori big bang atau teori ledakan besar, yang mencoba menjelaskan bagaimana alam semesta bermula.

Stephen Hawking

Tetapi semua kekaguman itu menjadi hambar tatkala pada sekitar tahun 2014 dia menegaskan bahwa Tuhan tidak ada. Dia sama sekali tidak percaya akan keberadaan Tuhan.

Dengan segala berkat ketajaman pemikiran untuk menjangkau galaksi dari kursi rodanya, dia ternyata hanya sampai pada kesimpulan yang menurut saya menyedihkan itu. Pathetic. 🙁

Kesimpulan yang pada dasarnya diperoleh dari penalaran yang tidak sempurna. Mengapa tidak sempurna? Karena menurutnya ledakan besar (big bang) adalah sesuatu yang memulai alam semesta dari ketiadaan (nothingness), tetapi siapa atau kuasa apa yang bisa menciptakan ketiadaan itu, dia juga pada dasarnya tidak tahu.

Kecakapan intelektual justru membuatnya menjadi sangat terpaku pada metode-metode ilmiah dimana semuanya harus bisa dinyatakan secara pasti, terukur dengan angka-angka, harus dapat dibuktikan dengan argumen-argumen ilmiah. Dan jika tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, maka “sesuatu” itu pada dasarnya tidak ada.

Dan karena Tuhan (tentu saja) tidak dapat dimodelkan dalam argumen-argumen ilmiah, maka Tuhan, menurut Hawking, adalah “sesuatu” yang sebenarnya tidak ada.

Lalu apa pendapat saya?

Saya selalu meyakini bahwa Tuhan jauh melampaui segala pemikiran. Dan justru karena itulah Dia disebut Tuhan.

Jika pemikiran saya mampu mendikte Tuhan itu seperti apa, maka siapakah sebenarnya yang menjadi Tuhan di sini, saya atau Dia? 😉

Jika saya mampu memahami Tuhan sepenuh-penuhnya dengan akal pikiran saya yang terbatas ini, maka tentu saja posisi Tuhan tidak lebih tinggi dari saya.

Maka, ketika kita mencoba “mengecilkan” Tuhan dengan mencoba memahami Dia dengan pikiran kita yang terbatas, kita sebenarnya sedang “membuat diri kita menjadi Tuhan”, yang memahami pikiran Tuhan yang sesungguhnya.

Dan di situlah letak arogansi kita.

Kita adalah ciptaan, yang merasa memahami Sang Pencipta.

Stephen Hawking adalah satu dari sekian banyak orang yang tampaknya menganggap bahwa Tuhan dan ilmu pengetahuan adalah dua hal yang tidak dapat berjalan beriringan, sebagaimana kecenderungan umum para ateis.

Di sisi lain, ada banyak orang religius yang justru mendalami ilmu pengetahuan, dan dapat menjalani keduanya secara beriringan. Misalnya saja Gregor Mendel, biarawan yang juga penemu ilmu genetika, atau Albertus Magnus yang sangat ahli dalam ilmu mineral dan orang pertama yang menemukan unsur kimia Arsenik, dan deretan biarawan lainnya yang menggeluti ilmu pengetahuan — tanpa harus menyangkal keberadaan Tuhan.

Apa yang sangat beda dari kedua pihak ini — ilmuwan yang meyakini adanya Tuhan dan yang menyangkal?

Menurut saya jawabannya terletak pada kerendahan hati — yang tentu sangat bertolak belakang dengan arogansi.

Sebagaimana yang saya pahami dalam ajaran Katolik, Yesus Kristus selalu meminta kita untuk percaya. Percaya pada penyertaan dan karyaNya dalam setiap situasi hidup. Kita barangkali tidak selalu memahami segala sesuatu, tetapi Tuhan menjanjikan keselamatan, apabila kita percaya dan mengikuti Dia.

Dan untuk bisa sungguh-sungguh menerima Dia, dibutuhkan kualitas kerendahan hati: kesadaran yang tak kunjung henti akan hakekat kita sebagai ciptaan Yang Kuasa, menyadari bahwa kebesaran dan keagungan Tuhan melampaui pemikiran kita yang terbatas.

Bahkan ketika kita melakukan sesuatu yang baik, itu bukan karena daya kuasa kita sendiri. Itu adalah kuasa Tuhan yang bekerja melalui diri kita.

Bukan begitu, saudara-saudariku? 😉

Maka marilah tetap rendah hati dan mencintai Tuhan Yang Maha Agung, agar Ia sungguh berkarya dalam hidup kita, dan semoga kita sungguh menjadi refleksi dari kebaikan hatiNya.

Pace e Bene. 🙂  🕊


P. S. Pencetus hipotesis pertama big bang adalah Monsignor Georges Henri Joseph Édouard Lemaître, seorang biarawan Belgia yang juga seorang astronom dan profesor Fisika di Universitas Katolik Leuven.

Georges Henri Joseph Édouard Lemaître