31 Days to Happiness

Pernahkah Anda membaca sebuah buku berisikan pergumulan jiwa seseorang, dan Anda hampir seperti bisa menyatakan dengan pasti bahwa Anda pun mengalami pergumulan yang sama?

Well, tidak banyak buku yang bisa melakukan itu, apalagi kalau bukunya ditulis bukan dalam bahasa sehari-hari kita. Tetapi barangkali kita semua setuju bahwa menemukan makna hidup dan kebahagiaan sejati adalah pencarian kita semua. Semua ingin hidup bermakna dan merasakan kebahagiaan yang sejati, a meaningful life and lasting happiness.

Dan bagaimana kalau tokoh dalam buku itu, setelah pergumulan yang panjang dan tak mudah, pada akhirnya sampai pada Sumber Kebahagiaan Sejati?

Tentu saja buku itu cukup berharga untuk dibaca, bukan? 😉

Baiklah, sedikit intro.

Raja Salomo – yang sering disebut sebagai Guru atau Sang Pemikir – menuliskan buah-buah pikirannya dalam Kitab Pengkotbah (Ecclesiastes), salah satu Kitab berisi hikmat dalam ajaran Kristiani. Isinya adalah tentang pergumulan batin Salomo sendiri untuk menemukan makna kehidupan dan kebahagiaan sejati. Dengan tidak melibatkan Tuhan dalam keseluruhan rangkaian perjalanan hidup, hidup itu sendiri menurut Salomo hanya menjadi “kosong dan sia-sia”. Kekosongan (emptiness) yang dirasakan Salomo berusaha diisinya dengan kemewahan dunia, ilmu pengetahuan, kesenangan hidup, tetapi semuanya, pada akhirnya, tetap bukan merupakan jawaban yang tepat. Kekosongan itu tetap ada.

Pergumulan Raja Salomo dengan kehidupan untuk menemukan kebahagiaan sejati, sesuatu yang berusaha ia pahami dengan berkat kebijaksanaan yang diberikan Tuhan padanya, juga adalah pergumulan kita. Itu sebabnya membaca kisah Raja Salomo ini sama seperti kita membaca perjalanan diri kita sendiri.

Dalam buku 31 Days of Happiness yang ditulis dengan sangat indah oleh David Jeremiah ini, kita akan menemukan pesan-pesan yang merupakan buah-buah kebijaksanaan Raja Salomo sendiri.

Secara pribadi saya sangat merekomendasikan Anda membaca versi asli buku ini dalam bahasa Inggris, agar tidak kehilangan keindahannya. Menikmati rangkaian kata demi kata yang ditata dengan sangat apik dan berisikan tentang kebijaksanaan dan menjadikannya sebagai bagian perjalanan spiritual pribadi adalah suatu pengalaman yang tak ternilai.

Dan pesan saya, don’t rush it. Bacalah buku ini dengan tenang, satu bab saja tiap waktu. Yang terpenting adalah kita sungguh “melihat” diri kita sendiri dalam pergumulan-pergumulan Raja Salomo.

It’s basically seeing yourself through the book while experiencing the journey.

Buku ini pada dasarnya adalah tentang perjalanan spiritual kita sendiri; suatu perjalanan yang telah ditempuh Raja Salomo yang bijaksana, perjalanan yang membawanya kepada eksistensi Sumber Kebahagiaan Sejati.

Untuk saya, buku ini adalah suatu investasi penting dalam hidup. A book for life.

Anda dapat memproleh buku ini dalam format PDF dengan mengakses link di bawah ini:

Semoga bermanfaat untuk Anda dalam menjalani hidup, menemukan makna dan kebahagiaan sejati yang hanya berasal dariNya.

🙂

Polarisasi

Dalam video singkat percakapan Bill Gates dengan Jared Diamond berikut ini, ada suatu hal menarik yang menjadi kekhawatiran bersama mereka, dan (mungkin) juga kita: polarisasi.

Polarisasi terjadi ketika orang-orang akhirnya terbagi-bagi ke dalam kelompok-kelompok yang saling bertentangan; masing-masing dengan matra (cita) sendiri. Dan yang menarik adalah interaksi kita dengan teknologi (tampaknya) memberi dampak pada semakin mudahnya polarisasi ini terbentuk.

Kurangnya komunikasi dengan bertatapan langsung (face-to-face communication), menurut Jared Diamond, membuat polarisasi semakin terbentuk, di mana orang-orang menjadi terpisah dalam lingkup sempit – populer dengan sebutan bubble – mereka masing-masing.

Ilustrasi Orang dalam Bubble Masing-Masing
Percakapan Bill Gates dengan Jared Diamond

Dalam video terlihat suatu pemandangan yang kini menjadi umum terlihat: orang-orang duduk berdampingan di dalam angkutan umum, tetapi masing-masing “terpisah”, menatap layar telepon seluler masing-masing. Secara fisik mereka berada di ruang dan waktu yang sama, tetapi masing-masing sibuk berinteraksi dengan layar di depannya masing-masing. Together but alone.

This is what we, as a global society, have become. 🙁

Create-to-Consume Ratio

Ada sebuah rasio menarik yang sangat populer terkait gaya hidup: create-to-consume ratio. Perbandingan antara apa yang kita konsumsi dengan apa yang dapat kita ciptakan.

Saya menemukan konsep ini di video YouTube-nya Sadia Badiei. Dia membuat channel Pick Up Limes, yang berisikan berbagai hal mulai dari gaya hidup, makanan, sampai panduan berwisata. Berikut video yang saya maksud:

Pick Up Limes – A Healthy Imbalance

Rasio yang baik adalah create / consume harus > 1. Artinya, kita sebaiknya lebih banyak menciptakan daripada mengkonsumsi. Inilah yang dimaksud Sadia sebagai “a healthy imbalance” – rasio yang diharapkan justru tidak boleh seimbang.

Konsumsi yang dimaksud di sini tentu saja tidak hanya berbentuk makanan, tetapi segala sesuatu yang kita serap setiap hari, yang ‘masuk’ ke dalam diri kita, bisa berupa artikel di Internet, musik yang indah, video lucu, ide yang tertuang dalam buku-buku, pendapat atau saran dari orang lain, dan berbagai hal lainnya. Segala yang kita konsumsi, yang sepenuhnya ada dalam kendali kita. Consume.

Yang kita ciptakan adalah segala sesuatu yang ‘keluar’ dari diri kita, bisa berupa ide, tulisan di blog, buku yang kita tulis, komentar di sosial media, motivasi kepada teman, hubungan yang mesra dengan pasangan, kedekatan dengan anak, keramahan di tempat kerja, dan berbagai “output” diri kita, yang sepenuhnya dalam kendali kita, sebagaimana konsumsi kita. Create.

Bagaimana dengan Anda? Pernahkah kita mencoba mengamati bagaimana pola konsumsi kita, dan apa-apa saja yang berusaha kita ciptakan?

Menurutku prinsip yang terpenting pada akhirnya adalah bagaimana kita fokus untuk memberikan kebaikan, menjadikan diri kita ‘corong’ hal-hal baik, dan menjadi ‘filter’ bagi hal-hal yang tidak baik dan tidak bernilai.

Mungkin saat ini yang kita konsumsi tidak selalu baik. Mungkin yang kita konsumsi juga masih terlalu banyak, sehingga perlu dipilah lagi mana konsumsi yang lebih berkualitas. Tentu kita harus senantiasa membenahi diri, agar konsumsi kita selain menjadi lebih minimalis, juga lebih berkualitas dan berguna, sehingga pada akhirnya, tanpa harus terlalu berfokus pada rasio create / consume > 1, kita sudah membawa lebih banyak kebaikan.

Mari berkarya dan good luck! 🙂

Endless Summer

Bukan, ini bukan tentang buku, atau judul film romantis terbaru. Terkait seni, memang, tapi bukan keduanya.

Apa terkait musik?

Yap, ini adalah grup musik yang diisi dua bersaudara Bob Moffat dan Clint Moffat, yang dulunya ada di grup musik The Moffats – empat Moffat bersaudara.

Sewaktu masih SMA saya dulunya merupakan penggemar musik mereka. Dua judul lagu mereka yang paling saya sukai adalah If Life Is So Short dan Miss You Like Crazy. Well, untuk masa itu rasanya kedua lagu ini sangat luar biasa. 🙂

Endless Summer pada dasarnya adalah transformasi dari The Moffats sendiri; dalam versi yang lebih terkesan dewasa. Mereka tetap membawakan lagu-lagu lawas mereka dulu dan membuat cover song lagu-lagu yang dipopulerkan penyanyi lain, dengan gaya minimalis dan suara yang sekarang lebih dewasa.

Berikut contoh video resmi mereka menyanyikan lagu ‘If Life Is So Short‘ yang direkam di Phu Chi Fa, kawasan hutan lindung berbukit yang cukup indah di Thailand. Mengapa di Thailand? Well, barangkali karena tagline mereka saat ini: #MusicTravelLove. Jadi, sambil bermusik dengan penuh cinta, sambil menjelajah ke tempat-tempat eksotik juga. Just a guess, by the way. 🙂

Endless Summer : If Life Is So Short

Lirik lagu mereka di atas bisa ditemukan salah satunya di Metro Lyrics.

Untuk mengikuti update musik mereka, silakan subscribe di channel YouTubenya, atau klik di website resminya di https://www.endlesssummermusic.com !

Have a great music time! 🙂

“Membongkar” Kebahagiaan ala Mark Manson

“The man who makes everything that leads to happiness depend upon himself, and not upon other men, has adopted the very best plan for living happily.”

Plato

Seberapa baik kita mengenali kebahagiaan? Ini salah satu pertanyaan penting di saat kita membicarakan hal sekompleks – dan di saat yang sama sesederhana – kebahagiaan (happiness).

Saya secara sangat beruntung menemukan sebuah buku karya Mark Manson, The Guide to Happiness, yang mencoba “membongkar” kebahagiaan di bab-bab awalnya, sesuatu yang ia sebut sebagai Deconstructing Happiness.

Berikut beberapa hal penting dalam sesi Deconstructing Happiness dalam buku The Guide to Happiness yang barangkali bisa membantu kita untuk benar-benar mengenali kebahagiaan:

  • Kebanyakan asumsi kita tentang kebahagiaan seringkali keliru. Para psikolog menemukan bahwa kita pada dasarnya tidak begitu memahami apa yang membuat kita bahagia atau tidak bahagia. Kita bahkan seringkali tidak menyadari bahwa kita ‘sedang’ berbahagia, dan baru menyadarinya setelah ‘saat-saat yang membahagiakan’ itu berlalu, digantikan oleh saat-saat yang ‘rasanya tidak lebih membahagiakan’ dari pengalaman sebelumnya.
  • Kebahagiaan bukanlah hal yang harus ‘dicapai’, tetapi merupakan ‘perasaan’ saat kita menjalani pengalaman hidup sehari-hari. Kebahagiaan tidak [akan] ditemukan dalam produk tertentu, meskipun iklan-iklan komersial berusaha meyakinkan konsumen seolah-olah produk tertentu bisa ‘menghadirkan’ kebahagiaan. Kita tentu familiar dengan format iklan seperti ‘buy this and be happy!’ 🙂
  • Kebahagiaan tidak sama dengan kenikmatan. Kenikmatan dapat diperoleh dari makanan, hubungan seks, film dan siaran televisi, pesta dengan teman-teman, perawatan tubuh, atau menjadi tokoh populer, tapi semua itu tidak lantas membawa kebahagiaan.
  • Menurunkan ekspektasi tidak lantas membuat kita lebih mudah merasa bahagia. Banyak pendapat keliru tentang hal ini, dimana orang berpikir dengan merendahkan ekspektasi, semakin mudah seseorang berbahagia dengan keadaan. Kita bisa menemukan orang yang memulai bisnis berisiko tinggi, kehabisan uang tabungan untuk mewujudkannya, tetapi masih bisa merasa berbahagia dengan pengalaman itu. Kebahagiaan tidak perlu divalidasi oleh faktor-faktor eksternal, seperti pendapat orang lain atau standar umum yang berkembang di masyarakat. Orang yang berbahagia adalah orang yang berbahagia, tanpa perlu harus dijelaskan dengan ‘model’ tertentu yang menyiratkan ‘ketergantungan’ pada faktor-faktor luar. Dengan demikian orang yang mengalami kegagalan sekali pun memiliki kesempatan yang sama dengan orang lain untuk berbahagia.
  • Berusaha untuk selalu positif tidak lantas menjadikan kita bahagia. Berusaha ‘meniadakan’ emosi negatif justru akan membuat seseorang merasakan emosi negatif yang lebih dalam, bahkan menyebabkan disfungsi emosi. Emosi negatif juga adalah sesuatu yang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan psikologi manusia, meskipun kita memang tetap harus belajar mengungkapkan emosi-emosi negatif ini dengan cara-cara yang wajar, tidak kasar, tidak merendahkan orang lain, dan tidak agresif secara fisik.

Ternyata, kebahagiaan yang sejati dirasakan dalam proses berjuang menjadi pribadi yang ideal.

Apa maksudnya?

‘Ideal’ yang dimaksud di sini bukanlah ideal menurut standar-standar duniawi, melainkan ‘menjadi lebih baik dari waktu ke waktu’.

Mark Manson memberikan 3 contoh kegiatan yang mendatangkan kebahagiaan sejati:

Berlari marathon sampai garis finish membuat kita lebih berbahagia dibandingkan memakan sepotong roti coklat. Membesarkan anak membuat kita lebih berbahagia dibandingkan menyelesaikan level tersulit dalam video game. Memulai usaha kecil-kecilan bersama teman-teman dan berjuang untuk mendapatkan penghasilan membuat kita lebih berbahagia dibandingkan saat kita membeli komputer baru.

Ketiga aktivitas tadi (seringkali) tidak terasa sangat menyenangkan saat kita menjalaninya, akan tetapi di saat yang sama bisa juga mendatangkan kebahagiaan yang sesungguhnya: Anda berbahagia telah memberikan kinerja fisik terbaik untuk dapat menyelesaikan marathon, Anda berbahagia mengetahui bahwa Anda menyerahkan hidup sepenuhnya untuk mengasuh seorang pribadi spesial yang hadir dalam hidup Anda, dan Anda berbahagia mencurahkan segala kemampuan Anda untuk mengatasi segala rintangan merintis usaha baru. Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya: dirasakan saat kita berjuang mewujudkan nilai-nilai baik (good values) dalam diri kita.

Karena itu, menurut Mark Manson, nasihat terbaik untuk menjadi pribadi yang bahagia adalah: Imagine who you want to be and then step towards it. Bayangkanlah seperti apa diri Anda yang benar-benar Anda inginkan, lalu bertindaklah untuk mewujudkannya. Dalam proses itu, Anda akan berbahagia.

So, being happy is really on you, on me, on each and every one of us. Menjadi bahagia adalah tanggungjawab pribadi kita masing-masing. Jika ingin berbahagia, maka mari berjuang untuk menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik lagi, berkembang seiring nilai-nilai baik yang ada dalam diri kita.

Kenneth Paul Venturi pernah berkata, “I don’t believe you have to be better than everybody else, I believe you have to be better than you ever thought you could be.”

P.S. By the way, masih banyak hal yang bisa diulas tentang buku Mark Manson ini. Satu postingan blog sesingkat ini tentu tidak cukup untuk menampung semuanya. Sampai bertemu di postingan-postingan berikutnya!

😀