Digdaya Waktu

Seberapa besarkah kekhawatiran kita hari ini 10 tahun mendatang? Apakah kekhawatiran hari ini masih sesignifikan hari ini di 5 atau 10 tahun mendatang?

Kita bisa mencoba mengingat satu momen hidup di masa lalu, misalnya saat kita masih di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas) atau saat kuliah di perguruan tinggi. Kekhawatiran kita saat itu – terasa besar saat itu – barangkali menyita sebagian besar pikiran kita; misalnya kekhawatiran tentang bagaimana kelanjutan hidup kita setelah tamat sekolah, kekhawatiran tentang kemampuan kita untuk memperoleh pekerjaan, dan sebagainya. Saat itu terasa besar, bahkan sangat besar.

Fast forward ke saat ini. Masihkah kita merasa bahwa apa yang kita khawatirkan dulu itu masih sebesar dulu?

Tentu tidak lagi, bukan? Seiring kita bertumbuh dalam skala waktu perspektif kita akan ikut bertumbuh, kita belajar dari beragam pengalaman hidup, dan lambat laun kita berubah menjadi lebih matang. Lebih dewasa. Lebih mampu melihat gambaran besar dan tidak mudah larut dalam perkara-perkara kecil. Kita menjadi lebih memahami pola-pola, kita secara rutin, perlahan namun kontinu, meng-upgrade perbendaharaan ilmu kita, ilmu mengarungi kehidupan.

Dan sekarang kita bergumul dengan kekhawatiran-kekhawatiran baru – yang saat ini tentu terasa besar bagi kita. Yet another big thing. Bagaimana kita harus menyikapinya? 

Tentu pengalaman di masa lampau tidak lantas membuat kita imun terhadap rasa khawatir. Still, we are vulnerable, and always will be. Tetapi sebagai manusia yang telah bertumbuh dan diajar waktu, kita setidaknya memahami sedikit prinsip dasar bahwa cara berpikir kita bisa berubah seiring waktu. Apa yang menjadi kekhawatiran saat ini barangkali bukan sesuatu yang berarti di waktu mendatang. Dengan kata lain kekhawatiran berlebihan menjadi sesuatu yang tidak lagi wajar, karena kita memahami bahwa tak ada yang sangat kuat dan besar di hadapan waktu, bahkan hidup kita sendiri akan ditutup oleh sang waktu itu sendiri.

Begitulah digdayanya waktu, yang seharusnya menyadarkan kita bahwa pada akhirnya, semua akan diuji olehnya, dan kendati jatah kita telah terpenuhi dengan sempurna, dia akan terus berjalan.

Minimalism

Minimalism, in short, is about living with the essentials. It is about the mindset of really asking deep and fundamental questions about the way we live. It is about going deep about choices we make every single day: from a simple purchase to the structure of our thinking.

What is minimalism and what causes minimalism a rise as a lifestyle?

The following short video could be a good pointer to that. Enjoy!

A Documentary About The Important Things

Update:

The following video would be a good start for those of you who want to consider minimalism as a way of life.

How to be a Minimalist

And another video on minimalism by Sadia from Pick Up Limes YouTube channel:

Beginner’s Guide to Minimalism